Langsung ke konten utama

Postingan

Kalabaka Maniasa, Sjahrir, dan Sumpah Pemuda

Lukisan "Rapat Pemuda Banda"  (Sumber: Rumah pengasingan Sutan Sjahrir, Banda Naira) Genosida Banda tahun 1621 menyisakan tanah tak bertuan, kebun-kebun pala kosong, dan ibu-ibu yang dipaksa menjanda. Banda menjadi kota mati.   Tapi 2 bulan sebelum pembantaian VOC, ada seorang pemuda Banda yang berani dengan lantang menolak kolonisasi. Dia adalah Kalabaka Maniasa, seorang Banda-Belanda yang fasih berbahasa melayu dan Belanda. Kalabaka naik di atas kapal Jan Pieterszoon Coen berdebat soal Tindakan-tindakan VOC yang bengis. Coen berargumen bahwa tindakannya itu dikarenakan penduduk Banda yang keras kepala. Kalabaka menjawabnya tegas bahwa apa yang dilakukan Banda hanyalah untuk melindungi hak milik mereka, tanah tumpah darah, dan adat istiadatnya. Debat itu berlangsung beberapa jam, Coen terus mencari segala cara untuk menguatkan alasannya untuk penaklukan, dia bahkan harus mengungkit-ungkit kasus terbunuhnya pimpinannya di tahun 1609, Ketika Verhoef dibantai secara sadis oleh ...

Nubuwat Rasul Muhammad

(Ilustrasi freepik.com) Setelah mengalami musim kemarau panjang, kondisi Arab di tahun 570 Masehi diguyur hujan lebat. Tanahnya yang dulu gersang kini subur dan ditumbuhi pepohonan dengan buah-buahan yang lebat. Kota Bakka (Makkah) sebagai zona ekonomi dan pusat peribadatan yang ramai dikala itu semakin indah mempesona, membuat “cemburu” Abraha dari Abisena (Ethiopia) yang ingin menggeser popularitas Ka’bah dengan membangun “kuil tandingannya” di kota Shan’a, Yaman. Alih-alih menyaingi Ka’bah, kuil Abraha malah dikotori seorang Badui Arab sebagai bentuk protes. Abraha naik pitam. Dia menyerukan perang besar terhadap Makkah dan merencanakan penghancuran total bangunan Ka’bah. Abraha membawa 60.000 pasukan tempur, 9 ekor gajah sedang, dan 1 ekor gajah paling besar yang ditungganginya sendiri. Namun banyak kelompok (kabilah Arab) tidak tinggal diam, karena Ka’bah adalah pujaan mayoritas bangsa Arab. Banyak kabilah menyiapkan pasukan tandingan menghadang Abraha. Mulai kabilah Dzu Nafr di Y...

Kritik Publik

(Ilustrasi: jakeorr.co.uk) " Words are loaded pistols ", kata-kata itu seperti pistol penuh peluru,   begitu menurut   Jean-Paul Sartre. Saat kata jadi bicara, m embuat   lawan tersungkur tak berdaya. Malu dan terhina. Tapi Sartre tidak sedang menasehati orang untuk “jaga bicara”. Karena dia sadar betul, bahwa manusia terlanjur "dikutuk bebas" ( condemned to be free ). Manusia itu bebas berkata apa saja. Jika sebaliknya justru bukanlah manusia. Renungan filsafat Satre menemukan justifikasinya dalam iklim demokrasi. Semua orang bebas mengkritik. Berhak untuk tidak setuju dengan pikiran orang lain. Atau bahkan membuat "hinaan publik" dengan nada satire pada siapa saja, apalagi pejabat publik. Di  Amerika pernah ada seorang ketua DPR, Nancy Pelosi, yang nekad merobek-merobek pidato Presiden yang dianggapnya membual tentang kehebatan Amerika. Di sebuah parade, para pendemo bahkan berani mengarak boneka besar bewujud presi...

Menjadi Merdeka

Kita sudah merdeka. Karena tak ada lagi bedil kompeni yang dikokang sembarangan ke mulut orang, atau pedang Dai Nippon yang dihunus di batang leher sembarangan. Karena kita memang sudah merdeka. Tapi, apa arti merdeka?   Sangat tidak mudah mengartikulasikan kata Merdeka, bahkan oleh Bung Karno sekalipun! Pernah suatu ketika, Tan Malaka marah besar kepada Soekarno, Hatta, dan Agus Salim di suatu malam tanggal 24 Januari 1946, hanya 5 bulan pasca kemerdekaan. Tan melontarkan kritiknya;    “Kepada kalian para sahabat, tahukah kalian kenapa aku tidak tertarik pada kemerdekaan yang kalian ciptakan. Aku merasa kemerdekaan itu tidak untuk kemasalahatan bersama…. Hai Soekarno sahabatku, kita belum merdeka, karena merdeka haruslah 100 persen. Hari ini aku melihat kemerdekaan hanya milik kaum elit yang mendadak bahagia menjadi borjuis, suka-cita menjadi ambtenaar…. Kemerdekaan hanya milik kalian, bukan milik rakyat! Dengarlah perlawananku ini, karena apabila kalian tetap bersikap s...

Hatta, Sjahrir, dan Anak-Anak Banda

(foto dokumentasi: abad.id) Hanya berjarak 3 rumah dari sekolah milik Belanda ELS ( Europeesche Lagere School ), Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir membuka “sekolah sore” di teras belakang rumah pengasingan Banda Naira. Disebut sekolah sore karena waktu belajarnya hanya di sore hari, persis setelah anak-anak Banda pulang dari sekolah Belanda. Tidak banyak murid di sekolah itu. Sebagian besar adalah warga Banda dari kelas bawah dan menengah, seperti; anak-cucu dari keluarga Baadilla (salah satu  klan  terbesar di Banda), beberapa anak tokoh politik seperti Donald dan Louis (anak angkat dr. Tjipto Mangunkusumo), sisanya adalah anak para nakhoda kapal mutiara, anak para pemilik kebun pala, dan beberapa anak Banda yang tidak mungkin melanjutkan pendidikan di Ambon, Makasar, dan Jawa.   Rumah Hatta di Banda sangat besar. Rumah itu bekas milik seorang Perkenier Belanda. Ada tiga pintu di teras bagian depan, empat ruangan di bagian tengah, teras belakang yang lebarnya sama besar d...

Menulis Adalah Jalan Panjang Kehidupan

(Sumber foto: kompasiana.com) Menulis itu jalan panjang kehidupan. Tidak berujung, apalagi berhenti! Menjadi guru dan dosen itu hanyalah profesi pekerjaan. Tetapi menulis adalah jalan keabadian. Menulis bagi seorang dosen bukan sekedar kewajiban, tapi pertanda bahwa dalam dirinya mengalir nadi kehidupan. Artinya, jika ada dosen yang tidak pernah menulis sejatinya dia tidak pernah hidup.    Akibat tidak memahami falsafah ini, banyak dosen lalu berebut jalan pintas; membayar mahal “joki jurnal”, atau mengambil murah tulisan mahasiswanya demi mengejar nilai KUM dan laporan BKD. Mereka akhirnya “terpaksa” menulis. Tapi celakanya, mereka nyaman dengan keadaan, mengklaim karya orang lain sebagai karyanya sendiri?! Tanpa dosa, mereka bangga dengan karya imitasi! Mengapa seorang dosen sulit menulis? Mengapa riset-riset dosen seringkali ditolak sejak tahap pertama. Sebenarnya ini bukan perkara administrasi, tapi karena gagal mengilhami gagasan, ide, atau buah pikiran. Disebut “bua...

Kitalah Bangsa Pemenang!

“ Banda seperti kota mati, tidak ada yang tersisa”, begitu tulis Eduard Douwes Dekker, yang bernama samaran  Multatuli , ketika dia menulis tentang genosida Banda tahun 1621.  Namun beberapa sumber historis lain menyebutkan dari 15.000 penduduk Banda sebelum genosida, yang tersisa hanya 1000 orang yang mendiami pulau Naira dan Banda Besar, tidak termasuk Ai dan Rhun yang berpenduduk sekitar beberapa ratus orang yang tidak terganggu akibat penguasaan Inggris di kedua pulau itu.  Sementara penduduk kecil yang mendiami pulau Rosingain dideportasi ke pulau-pulau utama dan kemudian disebarkan ke perkebunan pala menjadi pekerja paksa. Dan sebanyak 789 orang terdiri dari orang tua laki-laki dan wanita, juga anak-anak dibuang ke Batavia sebagai budak, dan sebagian lain berakhir di Srilanka.  Setelah Coen, Banda hanya dihuni oleh mayoritas para ibu dan anak-anak perempuan. Menyisakan beberapa perkampungan kosong. Antara lain; 1800 gubuk di perbukitan Selamon (Banda Besar), le...