Langsung ke konten utama

Kitalah Bangsa Pemenang!

Banda seperti kota mati, tidak ada yang tersisa”, begitu tulis Eduard Douwes Dekker, yang bernama samaran Multatuli, ketika dia menulis tentang genosida Banda tahun 1621. 

Namun beberapa sumber historis lain menyebutkan dari 15.000 penduduk Banda sebelum genosida, yang tersisa hanya 1000 orang yang mendiami pulau Naira dan Banda Besar, tidak termasuk Ai dan Rhun yang berpenduduk sekitar beberapa ratus orang yang tidak terganggu akibat penguasaan Inggris di kedua pulau itu. 

Sementara penduduk kecil yang mendiami pulau Rosingain dideportasi ke pulau-pulau utama dan kemudian disebarkan ke perkebunan pala menjadi pekerja paksa. Dan sebanyak 789 orang terdiri dari orang tua laki-laki dan wanita, juga anak-anak dibuang ke Batavia sebagai budak, dan sebagian lain berakhir di Srilanka. 

Setelah Coen, Banda hanya dihuni oleh mayoritas para ibu dan anak-anak perempuan. Menyisakan beberapa perkampungan kosong. Antara lain; 1800 gubuk di perbukitan Selamon (Banda Besar), lebih dari 700 kuburan di sekitarnya, dan 9 mayat yang belum sempat dikuburkan. Di Gunung Wayer juga ditemukan 1000 gubuk dan beberapa kuburan.

Banda semakin tenggelam dalam kesunyian dan ratapan. Kekejaman Coen membekas dalam ingatan yang terluka. Menjadi sebuah “memmoria in passionis” atau pengalaman penderitaan atas kebrutalan yang mereka alami. Memori hitam itu meninggalkan pada nama-nama kampong di kota Neira sampai hari ini seperti; “kampong Coen”, dan “kampong Parhopen”. Sebuah kenangan traumatik.

Sebagian memori abadi dalam syair-syair kerinduan terhadap tanah Banda dan para leluhur yang terbunuh tanpa keadilan. Syair itu dikenal dengan nama Onottan Syarawandan, yang dituturkan secara lisan turun-temurun. Diyakini sebagai suatu kebenaran oleh mereka yang memilih hijrah meninggalkan Banda Naira yang kemudian menyebut dirinya sebagai “orang Wandan”.

Bagi mereka yang tersisa di Banda, kenangan itu diabadikan dalam tarian-tarian yang sarat makna. Dikenal dengan nama “Cakalele Banda”. Sebuah gerak tarian unik yang memadukan nilai estetis sekaligus politis. Estetis karena dikemas dalam seni tari, politis karena mengandung makna perlawanan sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang terbunuh tanpa keadilan. Dalam Cakalele, terkandung pesan penting bahwa para leluhur tidaklah mati sia-sia, tetapi mati sebagai kesatria. 

Proses Penyembuhan

Tapi orang Banda hari ini telah melewati jalan panjang kehidupan, melampaui kesedihan masa lalu dengan hidup berdamai di masa kini. Tidak ada kebencian terhadap semua unsur masa lalu, mereka hidup berdampingan dengan semua ikon-ikon colonial, bersahabat akrab dengan rekan kerja asing, ramah Tamah tegur-sapa kepada siapa saja wisatawan yang datang. 

Orang Banda bahkan ikut merawat rumah-rumah tua. Menjaganya agar tidak rusak. Beberapa kasus vandalism terhadap cagar budaya sejarah di Banda Naira belakangan diketahui itu bukan ulah orang waras.

Berbeda dengan fenomena di negeri Belanda. Muncul gelombang ikonoklasme, Gerakan protes terhadap ikon-ikon yang dahulu diklaim pahlawan negara. Seperti patung Coen di kota Hoorn yang dulunya dipuja-puja sebagai pahlawan tapi kini berubah menjadi sasaran amuk massa. Menurut catatan Joella van Dongkersgoed (2019), perdebatan publik tentang J.P. Coen semakin tinggi sejak awal tahun 2018 dipicu oleh pencabutan replika patung Maurits van Nassau dari Mauritshuis di Den Haag dan inisiatif untuk mengganti nama sekolah dasar yang bernama Jan Pieterszoon Coen-school di lingkungan warga “Indonesia” di Amsterdam. 

Fenomena ikonoklasme atau yang disebut koran-koran Belanda sebagai badai “Nieuwe Beelden" ini harus dimengerti sebagai sebuah kesadaran historis baru yang sedang tumbuh dalam kehidupan warga Belanda. Dalam kesadaran baru itu terselip hasrat untuk menuliskan ulang sejarah kehidupan mereka untuk masa depan yang lebih baik. Namun, tentu saja penulis lebih menyarankan kepada public Belanda untuk bersikap lebih bijak terhadap simbol-simbol colonial, dengan cara memperlakukannya secara positif, ketimbang menjadikannya sebagai sasaran vandalism, atau bahkan menghancurkannya.

Diperlukan sebuah penulisan ulang sejarah dengan cara lebih jujur, adil dan terbuka demi masa depan bersama yang lebih baik. Seperti menuliskan seutuhnya siapa sebenarnya Laksamana Pieter Willemszoon Verhoef, dan menggambarkan siapa sesungguhnya Jan Pieterszoon Coen. Juga pentingnya mengungkap tokoh-tokoh local Banda agar dikenal secara public. Seperti siapakah Kalabaka Maniasa, sosok pemberani yang bahkan nekad menantang kebijakan JP. Coen di atas kapal pribadinya! Juga siapakah Bhoi Kherang, sosok perempuan yang lantang menyuarakan perlawanan kepada kolonialisme lewat gerakan para janda dari Lewetaka!

Banda perlu bersuara lantang, bahwa sejarah membuktikan kitalah sang pemenang, bukan pecundang!!!

Tulisan ini dibuat untuk mengenang 403 Tahun Genosida Banda 1621-2024.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekolah "Rakyat"

"Sekolah Rakyat", sebuah nama yang menggugah. Program baru 3 Kementerian di kabinet Prabowo ini seolah menggemakan cita luhur tentang pendidikan yang membumi. Namun di balik eufemisme itu, adakah kita sungguh-sungguh memahami “rakyat” yang kita sebut-sebut? Indonesia bukan hanya Jakarta, atau kota-kota di sekitarnya. Ia adalah gugusan ribuan pulau, tempat anak-anak berjalan berjam-jam melewati rimba, menyeberangi laut dengan perahu bocor, atau tinggal di kampung-kampung yang tak punya sinyal dan listrik, apalagi guru tetap. Di sana, pendidikan tidak pernah hadir sebagai hak, tapi sebagai harapan yang kadang kabur, kadang nyaris hilang sama sekali. Kita telah lama hidup dalam negara yang sibuk memproduksi solusi dari atas. Seakan semua permasalahan pendidikan bisa diselesaikan dengan proyek-proyek besar yang diumumkan lewat konferensi pers dan baliho. Sekolah Rakyat menjadi bagian dari irama itu: program yang katanya “revolusioner”, tapi tampak canggung membaca realitas di lua...

Ijazah

Kita boleh percaya bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya, tapi negeri ini mengajarkan bahwa jalan itu seringkali dibelokkan, harus melewati lorong hukum, berbelok ke prosedur, lalu menghilang dalam ruang-ruang sunyi kekuasaan. Di tengah semua itu, orang bertanya: Mana ijazah itu?   Pertanyaan itu sederhana. Bahkan terlampau sederhana hingga dianggap tidak penting. Tapi justru dalam kesederhanaannya, pertanyaan itu menyimpan luka. Luka dari rakyat yang merasa tidak diberi penjelasan, tidak diberi bukti, tidak diberi waktu untuk percaya dengan tenang.   Dan negara hanya diam. Meski berbagai klarifikasi dibuat. Oleh para petinggi kampus. Bahkan oleh tim kuasa hukum handal. Tapi tak satu pun dari semua itu yang benar-benar menjawab keinginan tulus dari rakyat biasa: Perlihatkan saja. Tunjukkan. Biar selesai.   Dalam Truth and Politics (1967) , Hannah Arendt menulis, “The result of a consistent and total substitution of lies for factual truth is not that the lie will...

Intelektual Ilusif

Kisah Jesse dan Zibby dalam film berjudul Liberal Arts (2012) lebih dari sekedar dua persona yang berbeda secara gender, tapi mencerminkan dua dunia yang berbeda: antara dunia yang matang dan dunia yang masih tumbuh. Jesse, lelaki yang telah menua bersama buku-buku dan nostalgia kampusnya, bertemu Zibby, mahasiswi cerdas yang belum genap dua puluh. Di antara mereka, lahirlah percakapan: tentang puisi, musik klasik, dan hal-hal yang membuat hidup tampak lebih bernilai. Ada ketertarikan diantaranya. Sampai pada satu titik, saat Zibby mengundangnya tidur bersama, Jesse lalu menolaknya. Ia berkata pelan, "You’re smart and beautiful, but you’re also nineteen." Ia tahu, ada batas yang tak boleh dilangkahi, bahkan oleh cinta yang tampak sah. Karena tak semua yang bisa dilakukan, patut dilakukan. Sayangnya, di dunia nyata, tak semua Jesse memilih pergi. Di dunia kampus, tempat dimana ilmu selalu diasumsikan netral, di ruang-ruang kelas yang penuh dengan ajaran etik, sejarah tubuh, d...