Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

Jaga Banda (bagian 3)

Heritage menjadi bermakna karena bagian dari ingatan kolektif yang terus diwariskan antargenerasi -- Lowenthal, The Past is A Foreign Country, 1985     Boleh jadi, tidak ada wilayah di Indonesia yang paling paradoksal dari sejarah kepulauan Banda. Gugusan pulau kecil yang luasnya hanya beberapa puluh kilometer persegi ini pernah menjadi pusat perdagangan dunia, memicu ekspedisi samudra bangsa-bangsa Eropa, peperangan kolonial, sampai lahirnya peristiwa fenomenal; tukar guling pulau Rhun dengan Manhattan dalam Treaty of Breda 1667 .     Tapi, di abad ini, Banda kembali menjadi arena perebutan. Bukan lagi berebut kawasan antara Inggris dan Belanda, tetapi perebutan makna ruang antara investasi ekonomi dengan upaya menjaga keberlanjutan lanskap sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat pulau kecil. Antara investor melawan para “penjaga Banda”.   Membagi-bagi Banda: Makro-Meso-Mikro Dalam Rencana Induk Pengembangan dan Penataan Kawasan Banda Neira dan Sekitarnya ...

Jaga Banda (bagian 2)

Keputusan pemerintah menetapkan Banda sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) patut disambut gembira. Lalu disusul launching buku Rencana Induk Pengembangan dan Penataan Kawasan Banda Neira Tahun 2025–2045 (RIP Bappenas). Tapi, membangun Banda bukan asal membangun, juga bukan sekedar “ada proyek” dan “ada niat baik” pemerintah atau pihak manapun. *** Kritik saya pada esai pertama soal rencana pembangunan Banda oleh Bappenas adalah soal paradigma. Atau cara pandang pembangunan yang cenderung land-based , atau terlalu berorietasi pada cara membangun daratan, lalu mengabaikan kekhasan laut dan kepulauan.     Dalam esai kedua ini, telaah saya arahkan kepada praktik pembangunan yang cenderung mengukur keberhasilan hanya dari banyaknya jumlah bangunan yang justru berisiko kehilangan resource  dan kapabilitas masyarakat untuk mengelola kehidupan sosial, ekonomi, dan ekologinya secara berkelanjutan.   Arturo Escobar (1995) dalam karyanya, Encountering Developmen...

Jaga Banda (bagian 1)

Sudah baca RIP Bappenas untuk Banda 2025-2045?   Dokumen setebal 422 halaman itu adalah kelanjutan dari keputusan pemerintah menetapkan Banda sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang harus diapresiasi. Agenda nasional ini seperti oase di padang pasir bagi orang Banda yang menunggu sejak lama di pinggiran pembangunan nasional.  Sudah cukup banyak gagasan dan harapan besar untuk Banda didiskusikan di grup-grup whatsapp dan facebook, juga tulisan-tulisan bernas lewat buku dan artikel opini di media massa,  dan semua itu kini  hadir di depan mata . Tapi pertanyaan di atas tetap penting diajukan, mengingat proses   pembangunan beberapa sarana public seperti taman kota, lampu hias, fasilitas sanitasi yang dimulai sejak tahun 2025 sudah selesai dikerjakan. Penting, karena  proyek-proyek itu seharusnya selalu berada dalam pengawasan publik sejak awal agar tidak menyimpang atau bahkan salah arah. Lalu,   sayup-sayup kita dengar di media massa l...