Langsung ke konten utama

Hatta, Sjahrir, dan Anak-Anak Banda

(foto dokumentasi: abad.id)


Hanya berjarak 3 rumah dari sekolah milik Belanda ELS (Europeesche Lagere School), Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir membuka “sekolah sore” di teras belakang rumah pengasingan Banda Naira. Disebut sekolah sore karena waktu belajarnya hanya di sore hari, persis setelah anak-anak Banda pulang dari sekolah Belanda. Tidak banyak murid di sekolah itu. Sebagian besar adalah warga Banda dari kelas bawah dan menengah, seperti; anak-cucu dari keluarga Baadilla (salah satu klan terbesar di Banda), beberapa anak tokoh politik seperti Donald dan Louis (anak angkat dr. Tjipto Mangunkusumo), sisanya adalah anak para nakhoda kapal mutiara, anak para pemilik kebun pala, dan beberapa anak Banda yang tidak mungkin melanjutkan pendidikan di Ambon, Makasar, dan Jawa. 


Rumah Hatta di Banda sangat besar. Rumah itu bekas milik seorang Perkenier Belanda. Ada tiga pintu di teras bagian depan, empat ruangan di bagian tengah, teras belakang yang lebarnya sama besar dengan teras depan, dan ada sekitar 5 kamar berukuran sedang di pekarangan belakang. Kelas Sore Hatta dan Sjahrir berlangsung di pekarangan belakang rumah Hatta itu. Dipisahkan oleh sebuah taman kecil yang cantik dengan sebuah guci kuno penampung air berukuran besar dan satu sumur yang letaknya di kiri dan kanan taman. 


Di Sekolah Sore, Hatta dan Sjahrir membagi tugas mengajar. Hatta mendapat tugas mengajarkan anak-anak yang lebih besar, sedangkan Sjahrir mengajar anak yang lebih kecil. Di kelas Hatta mengajarkan membaca, menulis, aritmatika dan bahasa Jerman, dengan pengantar bahasa Belanda. Sementara Sjahrir mengajar bahasa Belanda dan berhitung untuk murid-murid yang lebih kecil.  


Hatta dan Sjahrir bukan sekedar mengajar tetapi juga memberi contoh untuk bagaimana mencintai ilmu dan buku. Terutama Hatta, yang dikenal sangat sayang dengan buku-bukunya, bahkan sangat marah jika ada lipatan (Ezel's Oren) pada buku-buku yang dipinjamkannya. Bagi Hatta, orang yang suka melipat buku itu tanda lemah nalar dan ingatan. 


Sjahrir juga sama. Dia bahkan pernah marah kepada Des Alwi (anak angkatnya sendiri) dan murid-murid lainnya ketika mereka menumpahkan air di buku-buku Hatta. Sjahrir memberi hukuman anak-anaknya tidak boleh datang ke rumah Om Kacamata (panggilan Hatta) selama beberapa hari.  


Senang Meski Dibuang

Di pengasingan Banda, Hatta punya rutinitas. Dia harus berpakaian rapih dan bersih pada jam tertentu, bercukur dengan air hangat, mandi setengah jam kemudian, lalu menikmati kopi tubruknya pada jam yang selalu persis.  


Setelah sarapan, Hatta masuk ke kamar kerjanya untuk membaca atau menulis. Sepanjang hari dia mampu habiskan waktunya untuk membaca dan menulis. 


Di luar rumah, rutinitas Hatta yang ajeg itu sampai membuatnya dijuluki “jam berjalan”. Hatta punya hobi jalan-jalan sore berkeliling kota Naira. Rutenya mulai dari rumahnya menuju pelabuhan, lalu menelusuri perkebunan pala milik keluarga Belanda di Pante Kasteng, kemudian mengitari bukit di belakang benteng Belgica, dan kembali ke rumahnya. Kebiasaan ini membuat warga Banda tidak perlu melihat jam, karena begitu Hatta lewat pastilah jam 5 sore!  


Sjahrir juga sama. Saat masih tinggal bersama Hatta, keduanya punya kesepakatan waktu untuk sarapan pagi dan mengobrol pada jam 7 sampai 8 pagi. Setelah itu keduanya berpisah dan akan berjumpa lagi pada jam 1 sampai jam 2 untuk makan tengah hari.  


Hatta sangat senang jika diundang dalam acara warga Masyarakat Banda. Tidak peduli acaranya besar atau kecil, mewah atau sederhana, Hatta akan selalu hadir lebih awal sekitar 10 sampai 15 menit sebelum acara dimulai. Tapi dia akan segera pulang jika acaranya terlambat lebih dari 10 sampai 15 menit. Warga Banda mafhum dengan sikap Hatta ini. Membuat siapapun di Banda yang ingin mengundang Hatta haruslah tepat waktu, jika tidak ingin ditinggal pergi. 


Suatu saat bung Hatta membeli arumbai (perahu kecil) dari seorang nelayan Banda. Perahu itupun dicat warna merah-putih. Sjahrir tidak mau kalah, dia juga membeli sebuah perahu yang ukurannya agak besar. Bentuknya juga dimodifikasi mirip-mirip Yacht orang eropa. Pemerintah Belanda mulai curiga, perahu-perahu itu akan digunakan Hatta dan Sjahrir untuk kabur dari Banda. Banyak alasan dicari-cari untuk mencegah mereka agar tidak pergi keluar dengan perahu, tapi keduanya tidak peduli dan tetap pergi di setiap akhir pekan bertamsya ke pulau-pulau sebrang bersama anak-anak angkatnya. 


Di pengasingan Banda, Hatta dan Sjahrir nyaris tidak merasa sedang dibuang atau diasingkan. Selain lingkungan alamnya yang nyaman, keduanya nyaman berkumpul dan bersahabat dengan warga Banda. Mereka senang meski dibuang!


(ditulis untuk hari Anak Nasional, 23 Juli 2024). 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekolah "Rakyat"

"Sekolah Rakyat", sebuah nama yang menggugah. Program baru 3 Kementerian di kabinet Prabowo ini seolah menggemakan cita luhur tentang pendidikan yang membumi. Namun di balik eufemisme itu, adakah kita sungguh-sungguh memahami “rakyat” yang kita sebut-sebut? Indonesia bukan hanya Jakarta, atau kota-kota di sekitarnya. Ia adalah gugusan ribuan pulau, tempat anak-anak berjalan berjam-jam melewati rimba, menyeberangi laut dengan perahu bocor, atau tinggal di kampung-kampung yang tak punya sinyal dan listrik, apalagi guru tetap. Di sana, pendidikan tidak pernah hadir sebagai hak, tapi sebagai harapan yang kadang kabur, kadang nyaris hilang sama sekali. Kita telah lama hidup dalam negara yang sibuk memproduksi solusi dari atas. Seakan semua permasalahan pendidikan bisa diselesaikan dengan proyek-proyek besar yang diumumkan lewat konferensi pers dan baliho. Sekolah Rakyat menjadi bagian dari irama itu: program yang katanya “revolusioner”, tapi tampak canggung membaca realitas di lua...

Ijazah

Kita boleh percaya bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya, tapi negeri ini mengajarkan bahwa jalan itu seringkali dibelokkan, harus melewati lorong hukum, berbelok ke prosedur, lalu menghilang dalam ruang-ruang sunyi kekuasaan. Di tengah semua itu, orang bertanya: Mana ijazah itu?   Pertanyaan itu sederhana. Bahkan terlampau sederhana hingga dianggap tidak penting. Tapi justru dalam kesederhanaannya, pertanyaan itu menyimpan luka. Luka dari rakyat yang merasa tidak diberi penjelasan, tidak diberi bukti, tidak diberi waktu untuk percaya dengan tenang.   Dan negara hanya diam. Meski berbagai klarifikasi dibuat. Oleh para petinggi kampus. Bahkan oleh tim kuasa hukum handal. Tapi tak satu pun dari semua itu yang benar-benar menjawab keinginan tulus dari rakyat biasa: Perlihatkan saja. Tunjukkan. Biar selesai.   Dalam Truth and Politics (1967) , Hannah Arendt menulis, “The result of a consistent and total substitution of lies for factual truth is not that the lie will...

Intelektual Ilusif

Kisah Jesse dan Zibby dalam film berjudul Liberal Arts (2012) lebih dari sekedar dua persona yang berbeda secara gender, tapi mencerminkan dua dunia yang berbeda: antara dunia yang matang dan dunia yang masih tumbuh. Jesse, lelaki yang telah menua bersama buku-buku dan nostalgia kampusnya, bertemu Zibby, mahasiswi cerdas yang belum genap dua puluh. Di antara mereka, lahirlah percakapan: tentang puisi, musik klasik, dan hal-hal yang membuat hidup tampak lebih bernilai. Ada ketertarikan diantaranya. Sampai pada satu titik, saat Zibby mengundangnya tidur bersama, Jesse lalu menolaknya. Ia berkata pelan, "You’re smart and beautiful, but you’re also nineteen." Ia tahu, ada batas yang tak boleh dilangkahi, bahkan oleh cinta yang tampak sah. Karena tak semua yang bisa dilakukan, patut dilakukan. Sayangnya, di dunia nyata, tak semua Jesse memilih pergi. Di dunia kampus, tempat dimana ilmu selalu diasumsikan netral, di ruang-ruang kelas yang penuh dengan ajaran etik, sejarah tubuh, d...