Langsung ke konten utama

Baku Bitis


Beberapa hari lalu, beredar sebuah video amatir: sekelompok remaja saling baku pukul di taman segitiga, di depan Tugu RIS, Banda Naira. Mereka bertukar serangan, kadang dari belakang, lalu lari menjauh, hanya untuk disusul oleh pukulan lain yang datang dari arah berbeda. Itu hari kedua Idulfitri, sebuah momen yang seharusnya merayakan kehangatan, bukan kegaduhan.


Masyarakat bereaksi. Ada yang marah, menuntut aparat keamanan bertindak. Ada yang menyalahkan pemerintah daerah, yang membiarkan insiden itu terjadi persis di depan kantor camat. Ada pula yang menggugat peran ulama, mempertanyakan di mana suara moral dalam hiruk-pikuk ini. 

Tetapi, kekerasan di hari raya bukanlah hal baru di Banda. Pernah ada masa ketika baku hantam tidak lahir dari amarah atau dendam, melainkan dari sebuah tradisi. 

 

Namanya ”baku bitis”. Ini bukan sekadar perkelahian, melainkan sebuah permainan. Tarung kaki yang mengandalkan keseimbangan dan ketahanan, serupa Muay Thai, tapi bukan agresi membabi buta. Dua kawan berdiri sejajar, saling merangkul dengan satu tangan, mengambil posisi kuda-kuda kaki siap menahan tendangan lawan di belakang. Tidak ada wasit. Tidak ada aturan tertulis. Yang ada hanya kesepakatan tak terucap: tidak boleh melukai. Dan jika ada yang terluka, tanggung jawab bersama untuk merawatnya. 

 

Tidak seperti perkelahian liar yang kita saksikan hari ini, "baku bitis" adalah soal kebersamaan. Ini bukan soal siapa yang menang, tapi siapa yang mampu bertahan. Ia lahir dari semangat persaudaraan, bukan permusuhan. 

 

Kini, tradisi itu memudar. Yang tersisa adalah kekerasan tanpa bentuk, tanpa aturan, tanpa makna. 

 

Marah? Kecewa? Wajar. Tapi sekadar menghujat bukan jawaban. Banda Naira butuh lebih dari itu. 

 

Mungkin, kita perlu kembali pada akar. Tapi bukan dengan nostalgia yang buta. "Baku bitis" bisa dihidupkan kembali, bukan sebagai sisa masa lalu, melainkan sebagai sesuatu yang relevan dengan masa kini—sebuah ruang bagi energi muda yang berlebih, yang sering kali tak tahu harus disalurkan ke mana. 

 

Rekayasa sosial tidak selalu berarti penghancuran. Kadang, ia hanya soal menggeser sudut pandang, menemukan bentuk baru dari sesuatu yang lama. 

 

Dan mungkin, dalam langkah kecil seperti itu, kita menemukan kembali Banda yang beradab. 

 



Malang, April 2025



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekerasan Semalam dan Karnaval Kemerdekaan

Tanggal 30 Agustus 2025, Jakarta dan sejumlah kota besar Indonesia terbakar oleh amarah. Ribuan demonstran turun ke jalan, mengusung tuntutan yang kian hari kian membesar. Malamnya, kerusuhan pecah. Api menyala di hampir setiap pos polisi. Kepulan asap, suara sirene, dan retak kaca gedung menjadi saksi bahwa negara sedang berada di ambang krisis. Kekerasan berlangsung vulgar, terang-terangan, brutal. Namun, keesokan harinya, 31 Agustus, lanskap sosial berubah seketika. Di Jakarta, Surabaya, Malang, bahkan hingga wilayah kampung-kampung, jalan-jalan dipenuhi warga. Lalu lintas riuh rendah oleh derap langkah jalan sehat, hiasan merah putih, bazar rakyat, dan selfie berjamaah. Suasana penuh euforia, seolah 24 jam sebelumnya tidak pernah ada luka. Tempo kerusuhan seketika berganti ritme karnaval. Fenomena kontras inilah yang menuntut pembacaan kritis. Bagaimana mungkin masyarakat dengan begitu cepat berpindah dari tragedi ke pesta, dari bara api ke bendera? Hannah Arendt, dalam pengamat...

Tubuh Perempuan

  Di sebuah negeri yang katanya menjunjung adab ketimuran, seorang perempuan dicaci—bukan karena kebohongan, bukan karena kejahatan, tapi karena rahimnya. Kita menyaksikan, sekali lagi, bagaimana tubuh perempuan bukan miliknya. Ia adalah milik tafsir orang lain. Ia adalah milik negara, milik norma, milik bahasa yang sejak mula dirangkai oleh lidah-lidah lelaki. Ketika seorang perempuan diserang dengan kata “mandul,” kita tidak hanya menyaksikan hinaan, melainkan sebuah ingatan yang jauh, yang menggema dari peradaban lama, yang tak pernah benar-benar berlalu—di mana perempuan diukur dari fungsi reproduksi, seakan rahim adalah legitimasi kemanusiaan. Saya membaca berita itu dengan diam. Bukan karena tak marah. Tapi karena ini bukan hal baru. Ini hanya satu sobekan kecil dari gulungan kertas usang yang kita sebut sejarah. “Mandul” bukan sekadar kata. Ia adalah tanda. Ia menunjukkan sebuah pandangan dunia yang masih hidup dan bersuara. Pandangan yang menaruh kehormatan perempuan bukan ...

Yang Terlupakan Di Sembilan Belas Dua Delapan

28 Oktober 1928 adalah momentum sejarah bangsa. Pada 97 tahun silam itu, di hari yang sama, sekelompok anak muda pernah berjanji: bertumpah darah satu, berbangsa satu, berbahasa satu, Indonesia! Mereka bersumpah dengan kesadaran tinggi yang melampaui perbedaan. Meski di antara mereka terbentang jurang ideologi, latar pendidikan, keyakinan, dan arah perjuangan yang tak selalu sejalan. Jika didalami, kongres pemuda bukan sekadar romantika sejarah. Di baliknya tersimpan denyut intelektual yang kompleks. Mohammad Yamin, sang peramu rumusan Sumpah Pemuda, berasal dari Padang Panjang, seorang sastrawan ulung yang mengimajinasikan bahasa Indonesia sebagai jembatan kesadaran kebangsaan. Amir Sjarifuddin, pemuda Tapanuli, seorang ahli hukum yang kritis dan radikal, kelak menjadi tokoh kiri yang terlibat dalam pergolakan politik 1948. Mohammad Roem, diplomat cerdas asal Temanggung, memilih jalur diplomasi dan Islam moderat, walau akhirnya harus berhadapan dengan rezim yang ia bela. Johannes Leim...