Langsung ke konten utama

Robot Pintar Dan Tantangan Dunia Pendidikan

Dunia pendidikan hari ini dikejutkan dengan kemajuan teknologi berbasis AI (artificial intelligence). Sebuah “robot cerdas” yang ramah pada manusia dan mampu membantu menyelesaikan masalah kompleks. Belum selesai kita mengagumi mobil pintar (smart car) karya Elon Musk sang penggagas OpenAi, sekarang kita dibuat terheran-heran melihat sebuah mesin bernama Chat-GPT (generative pre-trained transformer), yaitu chatbot atau “robot yang bisa mengetik”, sebuah mesin pembelajaran yang dilatih untuk memahami bahasa manusia dan menghasilkan teks terstruktur yang mudah dimengerti. 

 

Program robot pintar ChatGPT hampir bisa menjawab semua hal berbasis pertanyaan teks yang bersumber dari data internet, buku, artikel, dan dokumen lainnya. Mesin robot ini bisa membuatkan artikel ilmiah yang kita inginkan, teks pidato, teks khutbah lengkap dengan dalilnya, bahkan dapat memprediksi kata-kata berikutnya, mengakui kesalahan, menantang premis salah, dan menolak permintaan yang tidak pantas. Robot menjadi seperti manusia; pintar dan “berperasaan”.

 

Kehadiran teknologi AI (artificial intelligence) ini menjadi cabaran serius dunia pendidikan. Jika semua pertanyaan mampu dijawab, tugas bisa dibuatkan, bahkan teks khutbah bisa disediakan sesuai tema yang diinginkan, untuk apa lagi ada sekolah, universitas, guru, dan dosen???

 

Kemajuan sains menggelinding bak bola besar yang melesat cepat dan tidak mampu dibendung. Menghadapi situasi ini, siapapun sulit untuk mengatakan tidak siap atau diam di tempat. Karena jika itu yang dilakukan, maka dirinya hanya menunggu dilindas bola besar zaman. 

 

Gerak Zaman, bukan Zona Nyaman

Baru saja kita mendengar kabar berita BPS merilis data, ada 8,4 juta rakyat Indonesia yang saat ini menganggur. Di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, dan kecanggihan teknologi masa kini yang nyaris menggeser peran manusia, bagaimana kita menghadapinya?? Bagaimana kita bisa survive, sukses menghindari rintangan lalu menggapai harapan?

 

Sebuah pepatah mengatakan, success is not a comfortable procedure. it is a very uncomfortable thing to attempt. so you got to get comfortable being uncomfortable. if you ever want to be successful”. (sukses bukan dicapai dengan cara nyaman. Karena cara itu akan menjadi sangat tidak nyaman untuk dicoba. Jadi Anda harus menjadi “seorang yang nyaman dengan ketidaknyaman”. Itu cara anda untuk kesuksesan). Maka, aktivitas-aktivitas intelektual dan karya-karya nyata di Masyarakat mutlak diperlukan, menjadi pertanda bahwa manusia siap menghadapi gerak zaman. Justru akan sangat berbahaya jika terus berada di zona nyaman. Maka perlu terus bergerak menantang zaman.

 

Di Zaman Serba Smart, Cukupkah Mengandalkan Kepintaran?

Melihat tantangan dunia sains dan kecanggihan teknologi sebagai basis kehiudpan hari ini, maka kesuksesan sungguh bukan bergantung pada seberapa besar kepintaran anda, melainkan seberapa besar sikap bijak anda menghadapi situasi ini. Jika anda hanya mengandalkan kepintaran, maka mesin Ai dan ChatGPT akan jauh lebih pintar dari anda.

 

Orang pintar berpikir dengan otak. Orang bijak berpikir lewat hati. Orang pintar sibuk menaklukan orang lain. Orang bijak sibuk menaklukan dirinya sendiri. Di zaman teknologi yang serba smart, banyak orang terjebak karena sibuk bergaya smart, padahal hanya yang bijak yang selamat!

 

Kesuksesan seorang direktur perusahaan biasanya tampak di permukaan, tapi banyak yang tidak tahu dia melaluinya dengan berbagai kegagalan, mungkin juga mengalami bangkrut beberapa kali. Kesuksesan seorang mahasiswa menjadi sarjana bukan soal kepintaran dirinya, melainkan sikapnya saat melewati lika-liku perkuliahan dengan tekun dan konsiten. Ada pepatah mengatakan, “without commitments you never start. But without consistency you never finish”.

 

Komitmen itu kata lain dari tekad dan niat. Asalnya dari diri sendiri. Konsistensi itu istiqamah. Asalnya dari motivasi dan doa yang kita panjatkan. Niat itu berbanding lurus dengan tujuan pancapaian. Konsistensi akan senantiasa memompa optimisme. Meskipun di tengah situasi gelap dan tidak menentu, niat dan optimisme akan menjadi lilin kecil yang menerangi jalan bagi masa depan cerah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekolah "Rakyat"

"Sekolah Rakyat", sebuah nama yang menggugah. Program baru 3 Kementerian di kabinet Prabowo ini seolah menggemakan cita luhur tentang pendidikan yang membumi. Namun di balik eufemisme itu, adakah kita sungguh-sungguh memahami “rakyat” yang kita sebut-sebut? Indonesia bukan hanya Jakarta, atau kota-kota di sekitarnya. Ia adalah gugusan ribuan pulau, tempat anak-anak berjalan berjam-jam melewati rimba, menyeberangi laut dengan perahu bocor, atau tinggal di kampung-kampung yang tak punya sinyal dan listrik, apalagi guru tetap. Di sana, pendidikan tidak pernah hadir sebagai hak, tapi sebagai harapan yang kadang kabur, kadang nyaris hilang sama sekali. Kita telah lama hidup dalam negara yang sibuk memproduksi solusi dari atas. Seakan semua permasalahan pendidikan bisa diselesaikan dengan proyek-proyek besar yang diumumkan lewat konferensi pers dan baliho. Sekolah Rakyat menjadi bagian dari irama itu: program yang katanya “revolusioner”, tapi tampak canggung membaca realitas di lua...

Ijazah

Kita boleh percaya bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya, tapi negeri ini mengajarkan bahwa jalan itu seringkali dibelokkan, harus melewati lorong hukum, berbelok ke prosedur, lalu menghilang dalam ruang-ruang sunyi kekuasaan. Di tengah semua itu, orang bertanya: Mana ijazah itu?   Pertanyaan itu sederhana. Bahkan terlampau sederhana hingga dianggap tidak penting. Tapi justru dalam kesederhanaannya, pertanyaan itu menyimpan luka. Luka dari rakyat yang merasa tidak diberi penjelasan, tidak diberi bukti, tidak diberi waktu untuk percaya dengan tenang.   Dan negara hanya diam. Meski berbagai klarifikasi dibuat. Oleh para petinggi kampus. Bahkan oleh tim kuasa hukum handal. Tapi tak satu pun dari semua itu yang benar-benar menjawab keinginan tulus dari rakyat biasa: Perlihatkan saja. Tunjukkan. Biar selesai.   Dalam Truth and Politics (1967) , Hannah Arendt menulis, “The result of a consistent and total substitution of lies for factual truth is not that the lie will...

Intelektual Ilusif

Kisah Jesse dan Zibby dalam film berjudul Liberal Arts (2012) lebih dari sekedar dua persona yang berbeda secara gender, tapi mencerminkan dua dunia yang berbeda: antara dunia yang matang dan dunia yang masih tumbuh. Jesse, lelaki yang telah menua bersama buku-buku dan nostalgia kampusnya, bertemu Zibby, mahasiswi cerdas yang belum genap dua puluh. Di antara mereka, lahirlah percakapan: tentang puisi, musik klasik, dan hal-hal yang membuat hidup tampak lebih bernilai. Ada ketertarikan diantaranya. Sampai pada satu titik, saat Zibby mengundangnya tidur bersama, Jesse lalu menolaknya. Ia berkata pelan, "You’re smart and beautiful, but you’re also nineteen." Ia tahu, ada batas yang tak boleh dilangkahi, bahkan oleh cinta yang tampak sah. Karena tak semua yang bisa dilakukan, patut dilakukan. Sayangnya, di dunia nyata, tak semua Jesse memilih pergi. Di dunia kampus, tempat dimana ilmu selalu diasumsikan netral, di ruang-ruang kelas yang penuh dengan ajaran etik, sejarah tubuh, d...