Langsung ke konten utama

Postingan

Kitalah Bangsa Pemenang!

“ Banda seperti kota mati, tidak ada yang tersisa”, begitu tulis Eduard Douwes Dekker, yang bernama samaran  Multatuli , ketika dia menulis tentang genosida Banda tahun 1621.  Namun beberapa sumber historis lain menyebutkan dari 15.000 penduduk Banda sebelum genosida, yang tersisa hanya 1000 orang yang mendiami pulau Naira dan Banda Besar, tidak termasuk Ai dan Rhun yang berpenduduk sekitar beberapa ratus orang yang tidak terganggu akibat penguasaan Inggris di kedua pulau itu.  Sementara penduduk kecil yang mendiami pulau Rosingain dideportasi ke pulau-pulau utama dan kemudian disebarkan ke perkebunan pala menjadi pekerja paksa. Dan sebanyak 789 orang terdiri dari orang tua laki-laki dan wanita, juga anak-anak dibuang ke Batavia sebagai budak, dan sebagian lain berakhir di Srilanka.  Setelah Coen, Banda hanya dihuni oleh mayoritas para ibu dan anak-anak perempuan. Menyisakan beberapa perkampungan kosong. Antara lain; 1800 gubuk di perbukitan Selamon (Banda Besar), le...

HIJRAH

(Ilustrasi pinterest.com) Secara terminologi, Hijrah mengandung dua makna, yaitu hijrah makani (fisik) dan hijrah maknawi (non-fisik).  Hijrah makani adalah hijrah secara fisik berpindah dari suatu tempat yang kurang baik menuju yang lebih baik,  dari negeri yang batil menuju negeri damai dan sejahtera. Sementara hijrah maknawi artinya berpindah  dari nilai yang kurang baik menuju nilai yang lebih baik, dari kebathilan menuju kebenaran, dari kekufuran  menuju keislaman. Secara historis, konstruksi peradaban Islam dimulai sejak dimulainya masa hijrah. Saat itu,  masyarakat Yastrib (Madinah) sebagai tuan rumah mau menerima kedatangan kaum Muhajirin Makkah  dengan sepenuh hati membuka lebar kesempatan untuk menempati wilayah Yatsrib sebagai tempat hunian bersama.  Rasulullah dan para sahabat kemudian mampu membangun komunitas yang selanjutnya dikenal dengan  masyarakat madani. Bangunan peradaban dalam masyarakat Madinah itulah yang kemudian memancar ...

Robot Pintar Dan Tantangan Dunia Pendidikan

Dunia pendidikan hari ini dikejutkan dengan kemajuan teknologi berbasis AI ( artificial intelligence ). Sebuah “robot cerdas” yang ramah pada manusia dan mampu membantu menyelesaikan masalah kompleks. Belum selesai kita mengagumi mobil pintar ( smart car ) karya Elon Musk sang penggagas OpenAi, sekarang kita dibuat terheran-heran melihat sebuah mesin bernama Chat-GPT ( generative pre-trained transformer), yaitu  chatbot  atau “robot yang bisa mengetik”, sebuah mesin pembelajaran yang dilatih untuk memahami bahasa manusia dan menghasilkan teks terstruktur yang mudah dimengerti.    Program robot pintar ChatGPT hampir bisa menjawab semua hal berbasis pertanyaan teks yang bersumber dari data internet, buku, artikel, dan dokumen lainnya. Mesin robot ini bisa membuatkan artikel ilmiah yang kita inginkan, teks pidato, teks khutbah lengkap dengan dalilnya, bahkan dapat memprediksi kata-kata berikutnya,  mengakui kesalahan, menantang premis salah, dan menolak permintaan ...

Mahasiswa, Belajarlah Dari Hatta!

(Foto: Repro Foto Rosihan Anwar dalam Buku 'Sutan Sjahrir' hal 116) Kritik mahasiswa terhadap presiden yang viral belakangan ini memicu diskusi hangat jagad maya. Ragam respon bermunculan, sebagian pro terhadap kritik itu, namun tidak sedikit juga yang kontra. Mereka yang kontra menganggap kritik mahasiswa itu harus lebih beradab, dan menyarankan agar gerakan mahasiswa sepatutnya lebih kepada gerakan politik moral dan bukan politik praktis. Pertanyaannya kemudian, apakah kritik terhadap pemerintah itu tercela? Apakah kritik harus beretika? Apakah gerakan protes mahasiswa terhadap suatu kebijakan termasuk gerakan tak berbudaya dan tak terpelajar? Cobalah sejenak menengok ke belakang. Kepada sejarah tokoh bangsa kita, Mohammad Hatta muda, sang proklamator. Dalam narasi historis, kita tahu bahwa antara buku dan Bung Hatta hampir sulit dipisahkan. Di penjara dia menulis buku. Di pengasingan Digul dan Banda Naira dia bawa serta 16 peti buku. Karena bagi Hatta, “Aku rela dipenjara as...