Langsung ke konten utama

Postingan

Robot Pintar Dan Tantangan Dunia Pendidikan

Dunia pendidikan hari ini dikejutkan dengan kemajuan teknologi berbasis AI ( artificial intelligence ). Sebuah “robot cerdas” yang ramah pada manusia dan mampu membantu menyelesaikan masalah kompleks. Belum selesai kita mengagumi mobil pintar ( smart car ) karya Elon Musk sang penggagas OpenAi, sekarang kita dibuat terheran-heran melihat sebuah mesin bernama Chat-GPT ( generative pre-trained transformer), yaitu  chatbot  atau “robot yang bisa mengetik”, sebuah mesin pembelajaran yang dilatih untuk memahami bahasa manusia dan menghasilkan teks terstruktur yang mudah dimengerti.    Program robot pintar ChatGPT hampir bisa menjawab semua hal berbasis pertanyaan teks yang bersumber dari data internet, buku, artikel, dan dokumen lainnya. Mesin robot ini bisa membuatkan artikel ilmiah yang kita inginkan, teks pidato, teks khutbah lengkap dengan dalilnya, bahkan dapat memprediksi kata-kata berikutnya,  mengakui kesalahan, menantang premis salah, dan menolak permintaan ...

Mahasiswa, Belajarlah Dari Hatta!

(Foto: Repro Foto Rosihan Anwar dalam Buku 'Sutan Sjahrir' hal 116) Kritik mahasiswa terhadap presiden yang viral belakangan ini memicu diskusi hangat jagad maya. Ragam respon bermunculan, sebagian pro terhadap kritik itu, namun tidak sedikit juga yang kontra. Mereka yang kontra menganggap kritik mahasiswa itu harus lebih beradab, dan menyarankan agar gerakan mahasiswa sepatutnya lebih kepada gerakan politik moral dan bukan politik praktis. Pertanyaannya kemudian, apakah kritik terhadap pemerintah itu tercela? Apakah kritik harus beretika? Apakah gerakan protes mahasiswa terhadap suatu kebijakan termasuk gerakan tak berbudaya dan tak terpelajar? Cobalah sejenak menengok ke belakang. Kepada sejarah tokoh bangsa kita, Mohammad Hatta muda, sang proklamator. Dalam narasi historis, kita tahu bahwa antara buku dan Bung Hatta hampir sulit dipisahkan. Di penjara dia menulis buku. Di pengasingan Digul dan Banda Naira dia bawa serta 16 peti buku. Karena bagi Hatta, “Aku rela dipenjara as...