Langsung ke konten utama

Yang Terlupakan Di Sembilan Belas Dua Delapan


28 Oktober 1928 adalah momentum sejarah bangsa. Pada 97 tahun silam itu, di hari yang sama, sekelompok anak muda pernah berjanji: bertumpah darah satu, berbangsa satu, berbahasa satu, Indonesia! Mereka bersumpah dengan kesadaran tinggi yang melampaui perbedaan. Meski di antara mereka terbentang jurang ideologi, latar pendidikan, keyakinan, dan arah perjuangan yang tak selalu sejalan.

Jika didalami, kongres pemuda bukan sekadar romantika sejarah. Di baliknya tersimpan denyut intelektual yang kompleks. Mohammad Yamin, sang peramu rumusan Sumpah Pemuda, berasal dari Padang Panjang, seorang sastrawan ulung yang mengimajinasikan bahasa Indonesia sebagai jembatan kesadaran kebangsaan. Amir Sjarifuddin, pemuda Tapanuli, seorang ahli hukum yang kritis dan radikal, kelak menjadi tokoh kiri yang terlibat dalam pergolakan politik 1948. Mohammad Roem, diplomat cerdas asal Temanggung, memilih jalur diplomasi dan Islam moderat, walau akhirnya harus berhadapan dengan rezim yang ia bela. Johannes Leimena, dokter asal Ambon, tetap teguh memperjuangkan kemanusiaan dan integritas publik hingga akhir hayat. SM. Kartosoewirjo, lahir dari idealisme Islam politik, harus berakhir di bedil eksekusi militer sebagai pendiri NII. Bahkan, Van der Plas, wakil pemerintah kolonial, yang secara ironis hadir menyaksikan tekad para pemuda yang nantinya justru menggulingkan bangsanya sendiri. 

Betapa warna-warninya mereka. Tapi pada saat yang sama, duduk satu meja, menyatukan lidah dan tekad, melahirkan janji suci bernama "Soempah Pemoeda". Menjadi satu bukan karena ingin seragam, tapi karena keberanian untuk menundukkan ego dan perbedaan.

 

Tapi sejarah justru menegur, setelah janji diucapkan, perjalanan bangsa tak serta-merta berjalan indah. Banyak dari mereka akhirnya berpisah jalan, berseberangan ideologi, bahkan saling berperang. Satu pelajaran: persatuan tidak pernah instan, tetapi upaya yang berterusan dan diperjuangkan. Persatuan bukan juga warisan, tapi pekerjaan untuk keabadian.

 

Disinilah ironi kita. Setelah hampir satu abad sejak janji diucapkan, bangsa ini kembali dan terus diuji. Bukan oleh penjajah berlaras panjang, melainkan oleh anak bangsa sendiri. Kita hari ini dikepung oleh bentuk penjajahan yang lebih halus: korupsi yang menjarah kejujuran, penyalahgunaan wewenang yang menistakan amanah, inkompetensi jabatan yang mengorbankan meritokrasi, serta pembangunan dan program-program pengembangan daerah yang dijadikan proyek politik, disulap menjadi jatah preman kekuasaan. Negeri ini semakin ramai bicara “persatuan,” tapi diam-diam terpecah oleh kepentingan pribadi dan kelompok. 


Kita menyebut diri pewaris semangat Sembilan Belas Dua Delapan, tapi banyak di antara kita justru memperjualbelikan sumpah janji itu; dengan proyek, jabatan, dan kekuasaan. Sumpah untuk bersatu kian tereduksi menjadi slogan kosong di upacara dan baliho. Padahal, jejak sejarah para pemuda 1928 justru melampaui perbedaan suku, agama, dan ideologi. Lalu mengapa generasi canggih hari ini justru gagal melampaui sekat-sekat itu?


Mungkin kita lupa bahwa “bersatu” bukan hanya soal mengucap janji, tapi menegakkan nilai. Mungkin kita lupa bahwa bersatu berarti menolak korupsi meski dilakukan oleh rekan separtai. Mungkin kita lupa bahwa bersatu berarti menegakkan kebenaran walau harus berhadapan dengan kekuasaan. Mungkin kita lupa bahwa bersatu berarti memberi tempat bagi yang kompeten, bukan karena bestfriend. Mungkin kita lupa bahwa bersatu berarti membangun negeri dengan tanggung jawab, bukan dengan proyek politik yang menambah kaya para makelar pembangunan.

 

Mari bertanya pada diri sendiri, masihkan kita setia pada sumpah itu? Ataukah kita sudah terlanjur menjualnya, diam-diam dan perlahan, di meja rapat, di lobi kekuasaan, dan di ruang gelap kepentingan?

 

“Yang terlupakan di 1928” adalah janji untuk menjaga nalar sehat dan moral bangsa. Karena di atas akal sehat, jujur dan tanggung jawablah negeri ini dilahirkan.

 

 

Tulisan ini direproduksi berulang-kali pada setiap tanggal 28 Oktober. Disesuaikan dengan konteks yang semakin kompleks.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekolah "Rakyat"

"Sekolah Rakyat", sebuah nama yang menggugah. Program baru 3 Kementerian di kabinet Prabowo ini seolah menggemakan cita luhur tentang pendidikan yang membumi. Namun di balik eufemisme itu, adakah kita sungguh-sungguh memahami “rakyat” yang kita sebut-sebut? Indonesia bukan hanya Jakarta, atau kota-kota di sekitarnya. Ia adalah gugusan ribuan pulau, tempat anak-anak berjalan berjam-jam melewati rimba, menyeberangi laut dengan perahu bocor, atau tinggal di kampung-kampung yang tak punya sinyal dan listrik, apalagi guru tetap. Di sana, pendidikan tidak pernah hadir sebagai hak, tapi sebagai harapan yang kadang kabur, kadang nyaris hilang sama sekali. Kita telah lama hidup dalam negara yang sibuk memproduksi solusi dari atas. Seakan semua permasalahan pendidikan bisa diselesaikan dengan proyek-proyek besar yang diumumkan lewat konferensi pers dan baliho. Sekolah Rakyat menjadi bagian dari irama itu: program yang katanya “revolusioner”, tapi tampak canggung membaca realitas di lua...

Ijazah

Kita boleh percaya bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya, tapi negeri ini mengajarkan bahwa jalan itu seringkali dibelokkan, harus melewati lorong hukum, berbelok ke prosedur, lalu menghilang dalam ruang-ruang sunyi kekuasaan. Di tengah semua itu, orang bertanya: Mana ijazah itu?   Pertanyaan itu sederhana. Bahkan terlampau sederhana hingga dianggap tidak penting. Tapi justru dalam kesederhanaannya, pertanyaan itu menyimpan luka. Luka dari rakyat yang merasa tidak diberi penjelasan, tidak diberi bukti, tidak diberi waktu untuk percaya dengan tenang.   Dan negara hanya diam. Meski berbagai klarifikasi dibuat. Oleh para petinggi kampus. Bahkan oleh tim kuasa hukum handal. Tapi tak satu pun dari semua itu yang benar-benar menjawab keinginan tulus dari rakyat biasa: Perlihatkan saja. Tunjukkan. Biar selesai.   Dalam Truth and Politics (1967) , Hannah Arendt menulis, “The result of a consistent and total substitution of lies for factual truth is not that the lie will...

Intelektual Ilusif

Kisah Jesse dan Zibby dalam film berjudul Liberal Arts (2012) lebih dari sekedar dua persona yang berbeda secara gender, tapi mencerminkan dua dunia yang berbeda: antara dunia yang matang dan dunia yang masih tumbuh. Jesse, lelaki yang telah menua bersama buku-buku dan nostalgia kampusnya, bertemu Zibby, mahasiswi cerdas yang belum genap dua puluh. Di antara mereka, lahirlah percakapan: tentang puisi, musik klasik, dan hal-hal yang membuat hidup tampak lebih bernilai. Ada ketertarikan diantaranya. Sampai pada satu titik, saat Zibby mengundangnya tidur bersama, Jesse lalu menolaknya. Ia berkata pelan, "You’re smart and beautiful, but you’re also nineteen." Ia tahu, ada batas yang tak boleh dilangkahi, bahkan oleh cinta yang tampak sah. Karena tak semua yang bisa dilakukan, patut dilakukan. Sayangnya, di dunia nyata, tak semua Jesse memilih pergi. Di dunia kampus, tempat dimana ilmu selalu diasumsikan netral, di ruang-ruang kelas yang penuh dengan ajaran etik, sejarah tubuh, d...